Selasa, 19 Maret 2013

FF_OnKey_Yaoi_My Choise


Aku hanya mampu menatapnya dengan sedih. Katakanlah aku lelaki lemah atau cengeng, tapi inilah aku. Menatapnya dengan segala ketidak mampuanku. Mengikutinya dengan semua kelemahanku. Menguntitnya dengan semua kebodohanku. Jangan katakan kalau aku berlebihan. Hey, aku bukan remaja ababil. Aku hanya tidak pernah mampu.

Naiya OKS

with

My Choise

Oh, lihatlah senyumannya itu. Jantung ini semakin berdegub kencang setiap melihatnya. Wajahnya benar-benar manis. Pantas semua orang menjulukinya Diva. Dia memang seorang ratu yang dipuja-puja. Namun aku hanya mampu menampilkan senyuman miris. Tangan lembutnya itu, sudah digenggam orang lain. Lihatlah pipinya yang bersemu merah, ketika pria itu mengacak rambutnya. Ya Tuhan, rasanya aku ingin mati saja.

PUK

"Jinki, apa yang kau lakukan disini?" tepukan itu menyadarkanku. Taemin, sahabat terbaikku. Aku hanya tersenyum miris. Dia yang mengetahui sebagian besar tentang diriku dan perasaanku.

"Ya Tuhan Jinki! Berapa kali harus kukatakan padamu. Kenapa kau tidak mengerti juga?" dia bertanya dengan suara keras. Aku hanya mampu meringis mendengar suaranya yang tidak pelan itu. Beberapa orang melihat ke arah kami (termasuk si Diva). Aku menyenggol tubuh Taemin pelan.

"Hey jangan keras-keras. Kau membuatku malu" aku berkata sambil menarik tubuh Taemin menjauh. Dia benar-benar membuatku semakin rendah di mata 'nya.'

Aku membalikkan tubuhku ketika merasa ada yang menatapku. Tapi kurasa itu hanya perasaanku saja. Karena sama sekali tidak ada orang yang menatapku. Oh ayolah, siapa yang mau menatap Jinki si namja pemalu dan culun. Kurasa tembok pun tidak akan mau.

Mall ini benar-benar ramai. Sebenarnya aku benci tempat-tempat seperti ini. Tapi ya sudahlah. Apapun akan kulakukan untuknya. Tapi sepertinya ini adalah pilihan yang buruk karena aku hanya melihat pemandangan yang menyakitkan.

Tak terlalu jauh didepanku, dia berdiri. Mengandeng mesra seorang pria sambil memilih pakaian yang cocok untuknya. Dia memang seorang shopaholic. Seleranya juga sangat bagus. Tapi haruskah dia melakukannya di hadapanku. Ah, dia memang tidak pernah menyadari kehadiranku. Menatapku saja enggan. Bukankah sudah kujelaskan, aku hanyalah seorang namja culun dan pemalu. Memikirkan semua ini kepalaku menjadi pusing.

"Jinki, gwenchanayo?" Taemin menahan lenganku dan menatapku dengan khawatir. Taemin selalu menemaniku, menjagaku dan mengingatkanku. Dia namja yang baik, sangat baik malah. Sangat beruntung siapa pun yang mendapatkannya. Eh, kenapa malah membahas Taemin?

"Im fine Taem. Just dizzy." Aku mengusap rambutnya pelan.

"tapi Jinki?"

"Aku baik-baik saja." Aku menarik tangannya pelan. Kepalaku sudah sangat pusing dan aku sangat ingin istirahat. Dan sepertinya Taemin mengerti maksudku. Dia menyangga tubuhku dan membantuku berjalan.

"ayo kita istirahat di café." Kurasa itu bukan ide yang buruk. Café itu tidak terlalu ramai dan terlihat nyaman. Sekali lagi aku merasa ada yang menatapku dengan tajam, tapi siapa? Sudahlah aku tak mau memikirkannya.

"Kau harus berhenti Jinki."

"berhenti apa?" aku menatapnya bingung.

"ayolah Jinki. Jangan pasang wajah sok polosmu itu."

"berhenti apa Taem? Aku benar-benar tidak tahu."

"ini sudah tahun ketiga kau menjadi stalkernya. Apa kau tidak lelah? Kau hanya akan disuguhi pemandangan yang sama setiap harinya. Kau hanya akan merasakan sakit setiap harinya."

Aku terseyum lelah mendengar nasihatnya. "tidak bisaTaem. Aku mencintainya. Jauh lebih mencintainya daripada diriku sendiri."

"tidakkah kau melihatku Jinki?"

"apa maksudmu Taem?"

"aku yang selalu mendampingimu. Yang selalu mendukungmu. Yang selalu menopangmu. Tak sadarkah dirimu tentang perasaanku?"

Ini seperti sebuah batu besar menimpa tubuhku. Selama ini, Taemin yang sudah menjadi sahabatku ternyata mencintaiku. Oh Tuhan, kepalaku semakin pusing.

"Maaf Taem. Kita bicarakan ini nanti. Aku ingin istirahat." Yang bisa kulakukan hanya berlari. Menghindari semuanya. Ini terlalu berat. Dan aku tidak mampu.

Katakanlah aku pengecut, aku hanya bisa lari dari masalah atau apapun, aku tidak peduli. Kepalaku seperti akan meledak. Aku hanya bisa berlari, menghindar dari 'nya', menghindar dari Taemin, menghindar dari semuanya.

Dan disinilah aku berakhir. Taman yang sepi dan tak terawat. Tapi mungkin ini tempat yang tepat untuk merenung. Memikirkan ulang tentang semuanya. Termasuk aku dan Taemin.

Taemin, namja manis, baik, dan mencintaiku. Apalagi yang kurang? Untuk apa aku mengharap sesuatu yang tidak pasti? Menginginkan hal yang jelas tidak mungkin.

Haruskah aku menyerah sekarang? Meninggalkan cinta lama dan mencari yang baru. Haruskah aku begitu? Ataukah meneruskan perjuanganku mendapatkan 'nya'? meski aku tahu ia tidak akan mungkin menerimaku.

Sudahlah, aku lelah berfikir. Biarkan saja waktu menjawab semuanya. Kuikuti saja arus air yang mengalir ini. Aku sudah terlalu lelah.

END

EPILOG

Jinki menekan bel di depannya dengan pelan. Tak lama pintu itu terbuka dan Jinki memasuki rumahnya dengan pelan. Dengan malas dia duduk di sofa, diikuti dengan orang yang membuka pintu untuknya.

"dari mana saja kau?" suara ketus itu tetap terdengar cantik di telinga Jinki. Tapi Jinki hanya terdiam. Seolah tak mendengar apapun.

"Hey Jinki, aku sedang bertanya padamu!" suara itu terdengar semakin ketus. Jinki menghela nafas lelah.

"apa urusanmu Kim Kibum?" Tanya Jinki kesal.

"apa urusan- Tunggu! Kau memanggilku Kim? Kau memanggilku Kim Kibum?!" mata Kibum terbelalak tak percaya. Antara marah dan terkejut.

"lalu bagaimana aku harus memanggilmu Kibum?" Tanya Jinki tak sabaran.

"Harusnya kau memanggilku Lee Kibum." Suara itu terdengar lebih lemah. Bagai cicitan burung kecil. Jinki terkekeh pelan mendengar jawaban Kibum. Membuat Kibum mengerutkan dahinya.

"apakah kau pantas dipanggil Lee? " pertanyaan itu membuat Kibum terdiam. "setelah semua yang kau lakukan padaku? Setelah kau bersenang-senang dengan Choi, kau bisa seenaknya kembali kepadaku? Kau pikir semudah itu?"

"Tapi kau juga melakukan hal yang sama Jinki. Kau juga selalu bersama Taemin. Kau kira aku tidak tahu?"

"Taemin? Ah mungkin memang seharusnya menikah dengannya saja. Harusnya aku tak mengajukan permintaan bodoh untuk menikahimu."

"APA? Jadi pernikahan kita bukan perjodohan?"

"Kau pikir hanya sebatas perjodohan?!" Tiba-tiba Jinki merasa marah. entah apa penyebabnya. "Tiga tahun Kibum. Tiga tahun aku mencintaimu dalam diam. Kupikir dengan menjadikanmu milikku, kau bisa menerimaku. Tapi apa? Kau semakin menghancurkanku. Kau semakin sering bersama Choi sialan itu."

Kibum hanya diam. Otaknya benar-benar sedang buntu saat ini. Semua kejutan ini membuatnya kaget. Tentu saja, siapa yang tidak kaget bila diberi kejutan semua ini. Melihat Kibum hanya diam, Jinki memantabkan hatinya kembali.

"aku sudah mengurus surat perceraian kita. Aku lelah. Kau tinggal tanda tangan saja dan semuanya akan selesai."

Selesai berkata, Jinki melangkahkan kakinya ke kamar tamu di rumahnya. Terlalu kesal untuk tidur di kamarnya dan Kibum. Sudahlah memang begini akhirnya.

FF_JoTwins_Yaoi_Our Special Day

Kwangmin melupakan hari penting untuknya dan Youngmin. Youngmin marah. Dan apa yang terjadi selanjutnya?


Naiya-OKS aka Jung Ah Yeon

With
Our Special Day


Kwangmin hanya menatap frustasi kertas-kertas di hadapannya. Dia tidak punya konsentrasi untuk mengerjakan itu semua. Otaknya sedang berpusat pada namja cantik yang sekarang –mungkin- berada di rumah.

Namja cantik bernama Jo Youngmin. Entah apa penyebabnya, tapi dia benar-benar merindukan namja cantiknya itu. Memikirkannya saja membuatnya semakin rindu. Dia benar-benar ingin pulang dan bertemu huswifenya itu.
TOK TOK
"masuk" Kwangmin menyahut asal tanpa melihat pintu.
"KWANGIE!" Kwangmin mendongakkan wajah dengan cepat. Dan matanya terbelalak menatap seorang Jo Youngmin berdiri di depannya.
"Kwangie! Kenapa diam saja?" bibir Youngmin mengerucut imut. Tangannya bergerak di depan mata Kwangmin, berusaha membuatnya tersadar. Tapi sepertinya tidak juga berhasil.
"JO KWANGMIN!" kesal, Youngmin berteriak di telinga Kwangmin. Dan akhirnya, cara ini berhasil.
"eh Youngie, kenapa bisa berada disini?" Tanya Kwangmin bingung.
"jadi Kwangie tidak suka Youngie datang? Baiklah Youngie pula saja." Sepertinya namja cantik itu marah. Dia kembali ke pintu sambil menghentak-hentak kakinya.
Kwangmin dengan cepat tersadar. Dia segera menarik tangan Youngmin dan memeluknya dengan erat.
"aku hanya kaget Youngie. Kukira kan istirahat di rumah. tiba-tiba muncul disini." Kwangmin berkata sambil mencubit pipi Youngmin.
"Youngie bosan di rumah. Youngie mau menemani Kwangie saja."
Kwangmin tersenyum lembut, lalu menuntun Youngmin duduk di sofa. dia membaringkan tubuhnya di pangkuan Youngmin dan memeluk tubuhnya erat.
"aku merindukanmu baby." Kwangmin menggesekkan wajahnya ke perut Youngmin dan membuatnya tertawa kegelian.
"Miss u too Kwangie." Jemari lembut Youngmin mengusap perlahan rambut kecoklatan milik Kwangmin.
"eh Kwangie, kau ingat tidak ini hari apa?"
"memangnya hari apa Youngie?"
"jadi kau lupa?" bibir Youngmin kembali mengerucut.
"Mianhae Youngie, tapi aku benar-benar lupa."
"Kwangie menyebalkan!"
Dahi Kwangmin berkerut. Dia berusaha mengingat, apa yang special di hari ini. Tapi tidak ada kok.
"Hahahaha…" kwangmin kembali tersadar ketika mendengar suara tawa renyah itu. Youngmin sedang tertawa sambil menutup wajah dengan tangan. Kwangmin menatapnya dengan bingung.
"maaf Kwangie. Aku hanya bercanda kok." Youngmin mengedipkan matanya dan mengecup kening Kwangmin. Rasanya, Kwangmin ingin menjedotkan(?) kepalanya ke tembok. Bagaimana bisa huswife-nya yang polos mengerjainya?
"Kwangie kau tahu tidak?"
"hm?"
"Aku hamil"
"Kwangie! "
"Kwangie kenapa diam saja?!"
"JO KWANGMIN! AKU HAMIL ANAKMU BODOH!"


END

Sabtu, 16 Maret 2013

FF_JoTwins_Yaoi_I Want To Be Your Seme


“haruskah aku melakukannya?” Youngmin menggigit bibirnya takut.
“ayolah hyung. Kau sudah menunggu lama untuk ini” Minwoo menepuk bahu Youngmin.
“Ini keputusanmu Youngminnie. Aku hanya bisa mendukungmu.” Jeongmin tersenyum.
“TAPI BAGAIMANA JIKA KWANGIE TIDAK MAU??!!!”

Naiya-OKS
With
I Want To Be Your Seme

Jo Twins. Julukan untuk dua orang “pangeran” di sekolah ini. Mereka cerdas, kaya, tampan, berprestasi, dan wajah mereka mirip. Banyak yang berharap mereka adalah pasangan kekasih, saudara yang tertukar, atau apalah itu. Tapi ternyata mereka hanyalah orang biasa dengan wajah yang mirip.
Jo Youngmin dan Jo Kwangmin. Wajah mereka sangat identik, namun kita bisa membedakan mereka dengan mudah. Youngmin memiliki rambut kuning, dan Kwangmin dengan rambut coklat.

^^^

“WHAT THE??!!!”
“Waeyo Kwang?”
“Something wrong?”
“…”
“…”
“HAHAHAHAHAHA…”
Kwangmin menatap horror pada bunga mawar dan boneka pikachu PINK yang tergeletak di lokernya. Siapa orang gila yang berani melakukan itu?
“Donghyun hyung, ada tulisannya. Coba kau lihat!”
“HAHAHAHAHA…coba kau baca Hyunseung. Tulisan ini membuatku ingin ngompol hahahaha…”
Kwangmin menarik notes kecil itu dengan cepat dan membacanya.

Jo Kwangmin, aku menyukaimu.
Jadilah uke-ku!

Jo Youngmin

“HELL NO!!!”

END

Author notes :
RnR please. But Don’t Bash The Chara! Gomawo J

FF_JoTwins_Yaoi_Im Jealous


Youngmin menghentak-hentakkan kakinya dengan keras. Sesekali bibirnya bergerak-gerak seolah sedang mengomel. Tingkahnya yang sangat imut itu membuat seme-seme melihatnya dengan tatapan lapar. Dan sepertinya Youngmin tidak menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian.

Naiya-OKS
With
I’m Jealous!!!

“Hyung, apa yang terjadi denganmu?” Youngmin menatap Minwoo dengan heran.
“Memangnya aku kenapa Minwoo?”
“Err, kau terlihat berbeda hyung.” Ujar Minwoo pelan
“Jinjja? Apa aku terlihat lebih macho?”
Minwoo cengo mendengar pertanyaan Youngmin. Sejak kapan seorang Jo Youngmin yang terkenal karena kecantikannya menjadi macho?
“Minwoo! Kenapa diam saja?” Minwoo tersentak kaget mendengar suara Youngmin.
“Err tidak hyung. Kau semakin cantik.” Meski Minwoo memuji Youngmin dengan tulus, namun tetap saja wajah Youngmin menjadi lesu.
“gwenchanayo hyung?” Tanya Minwoo khawatir
“Ne Minwoo.” Aku tidak baik-baik saja, sambung Youngmin dalam hati.

^^^
Kwangmin menatap Youngmin dengan heran. Namjachingu-nya hanya menatap makanannyaa tanpa berniat memakannya sama sekali.
“Youngie, apa kau baik-baik saja?”
“memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja?” Tanya Youngmin dengan sarkatis.
Kwangmin meneguk ludah dengan sulit. Tentu saja dia kaget. Namja manisnya yang biasanya lembut tiba-tiba menjadi kasar.
“Youngie, apa aku membuat kesalahan?” Tanya Kwangmin takut-takut.
“kau merasa membuat kesalahan tidak?” Skak Mat. Kwangmin hanya mampu terdiam.
“Mianhae Youngie jika aku membuat kesalahan. Tapi aku benar-benar tidak tahu kenapa kau marah.”
“memangnya aku marah?”
“Tidak. Tapi kau ketus padaku.”
“kau tau kenapa aku ketus padamu?”
“aku tidak tahu Youngie. Karena itu aku bertanya padamu.” Kwangmin merasa gemas sampai ingin menggigit Youngmin. Sedari tadi pembicaraan mereka hanya berputar-putar saja.
“…”
“Youngie?”
“…”
“Youngie, jebal!”
“…”
“…”
“Kwangie, kau tahu kenapa aku marah?”
“memangnya kenapa?”
“AKU CEMBURU!!!”
“eh?! Cemburu? Memangnya aku pernah mendekati namja lain?” Youngmin menghela nafas pelan.
“aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi janji jangan tertawa oke?”
“aku janji Youngie.”
“Pinky promise?” kwangmin tersenyum mendengar permintaan Youngmin. Namjachingu-nya itu memang sangat polos. Kwangmin mengulurkan kelingkingnya.
“Ne, pinky promise.”
“Aku…”
“aku?” kwangmin menunggu dengan tidak sabar.
“akucemburukarenaKwangiejugacantik”
“EH? Katakan dengan perlahan Youngie.”
“Aku cemburu karena karena Kwangie juga cantik.” Wajah Youngmin memerah sempurna ketika mengatakannya. Sepertinya dia sangat malu.
Kwangmin cengo. Sepertinya dia sangat kaget dengan alasan Youngmin.
“err maksudmu Youngie?” Youngmin memutar bola matanya dengan bosan.
“kau tahu? Banyak seme yang mendekatiku karena mereka menginginkan Kwangie menjadi uke mereka. Tentu saja aku marah karena kau adalah semeku. Dan bagaimana bisa seorang seme sepertimu menggantikanku sebagai uke.” Bibir Youngmin mengerucut imut sambil menatap Kwangmin tajam.
“Hahahahaha…”
“Kwangie, kau sudah berjanji tidak tertawa!”
“ups, maaf Youngie. Habis alasanmu lucu sekali sih.”
“Huh! Kwangie menyebalkan!”
“Baiklah. Sekarang Youngie ingin bagaimana?” Youngmin tersenyum licik mendengar pertanyaan Kwangmin. Namun sepertinya Kwangmin tidak menyadarinya karena masih sibuk menahan tawa.
“Aku…ingin menjadi seme Kwangie!”
“EH?!!”

END

AN : well this is my comeback =D

Kamis, 19 Januari 2012

Talking about Love


Aneh ya judulnya? Habis aku bingung mau kasih judul apaan. Yah pokoknya saya mau curhat soal CINTA!!!
Sebenarnya kepikiran buat nulis ini juga ngga sengaja gara-gara ngeliat MV dari MBLAQ yang “This Is War”. Ngga tau judul aslinya apaan, habis hangul ngga kelihatan sih di netbook aku. Sebenarnya sih ngga terlalu nge-fans sama MBLAQ(cuma addicted sama G.O.), Cuma waktu iseng buka youtube ada video itu, ya udah aku download aja.
Ternyata ceritanya sangaaaatttt sedih. Yah setidaknya menurut aku sih. Sebenarnya juga ngga terlalu mudeng sih Cuma yang aku mudeng, cewek yang disukain sama Joon oppa lebih milih Thunder oppa. Padahal sebelumnya yang nyelametin tuh cewek JoonPa. Dan parahnya lagi, Thunder oppa itu temennya JoonPa. Akhirnya JoonPa ngeluarin pistolnya mau nembak Thunder oppa. Nah ceweknya ngelindungin Thunder oppa. Akhirnya JoonPa narik pelatuk. Pas mereka udah pasrah gitu, eh ternyata pelurunya malah balik ke JoonPa. Kayaknya JoonPa emang niat mau bunuh diri. Ending-nya Thunder oppa sama ceweknya nyamperin JoonPa, dan JoonPa ngasih kertas ke mereka. Kayaknya sih tiket, Cuma ngga tau pastinya. Pokoknya gitu deh.
Cuma masih ngga mudeng sama adegan JoonPa mau nembak cewek itu(nembak beneran lho maksudnya :p). juga sebenarnya pekerjaan JoonPa apaan. Apa pembunuh bayaran atau apa ngga mudeng. Cuma surprise aja sama endingnya. Loh, kenapa malah jadi bahas MV MBLAQ? Pokoknya tulisan di bawah ini ngga ada sangkut pautnya sama MBLAQ, ok!
Sebenarnya aku Cuma heran aja, kenapa banyak orang yang… mengagungkan cinta. Yang aku maksud cinta disini cinta terhadap lawan jenis. Bukan terhadap Tuhan, keluarga, atau temen ya. Kalo misalnya liat FTV, aku sering heran sama penulis skenarionya. Kenapa sih terlalu maksain endingnya(menurut aku). Hampir semua FTV yang aku tonton always happy ending. Ngga tau kenapa. Apa karena ngikutin pasar? Bukannya aku suka sad ending, tapi kadang akhirnya tuh emang maksa banget.
Tapi sampai sekarang, jujur aja nih, aku masih belum percaya sama yang namanya cinta. Ngga tau kenapa. Aku sering ngerasa aneh kalo misalnya ngelihat atau ngebaca cerita ada cowok yang punya cewek matre tapi masih ada diturutin kemauannya atas nama cinta. Yah kalo menurut aku, mereka bisa melihat tapi pura-pura buta.
Pasti yang baca ini bakal bilang kalo aku belum kena karmanya, atau aku belum pernah ngerasain cinta atau apalah. Tapi emang itu yang aku pikirin. Bukannya aku bilang jatuh cinta itu jelek atau apa. Tapi cinta itu kan sebenarnya indah, Cuma rusak gara-gara perilaku kita sendiri. Kadang karena cinta, kita jadi egois dan maksain orang yang kita suka buat jadi milik kita.
Aku sering mikir, berapa banyak orang yang kehilangan harta, nyawa, sifat asli, atau apalah hanya Karena cinta yang aja palsu. Emang sih banyak juga yang bener-bener punya cinta sejati. Tapi banyak juga yang Cuma kepura-puraan.
Aku percaya cinta itu indah, bisa menyatukan perbedaan, membuat segalanya menjadi mengagumkan. Tapi cinta yang berlebihan juga ngga baik. Kita tetap jatuh cinta tapi mata kita harus selalu terjaga. Jangan sampai karena cinta, kita jadi harus pura-pura buta.
Aku paling suka sama kata-kata ini, “cinta itu seperti bus. Selalu datang dan pergi. Tapi hanya satu bus yang akan membawa kita pada mimpi kita. Jadi jangan sampai melewatkan bis itu.” kekeke melankolis banget ya.
Ok, saya cinta damai. Buat yang tersinggu sama kata-kata aku, aku minta maaf banget. Ngga bermaksud nyinggung. Ini Cuma pikiran sesat saya. Saya terima komentar apa aja. Mau nge-bash juga ngga apa-apa.

My Motivation


p. s. : masih tentang Freedom Writers(FW), beberapa bulan yang lalu, anggota FW disuruh membuat motivasi menulis. Yah kayak apa yang bikin kita tertarik buat menulis dsb. Ok just read this. Semoga bisa menginspirasi.
==============================================================================
Aku suka banget novel dan teenlit karena itu aku pengen banget bisa nulis teenlit. Tapi kayaknya bisa nulis teenlit itu susah banget. Karena itu aku sekarang aku lagi focus dulu untuk nulis cerpen karena menurut menulis cerpen bisa mengantarkan aku untuk bisa menulis teenlit. Kalau misalnya menulis teenlit, aku pengen menulis tentang remaja dan anak-anak entah temanya apa Karena aku pengen lebih dekat sama anak-anak dan remaja dan memahami tentang mereka. Aku juga pernah denger kalau masa remaja itu masa yang sulit untuk dimengerti orang lain. Bahkan banyak sampai yang lepas control. Karena itu aku jadi pengen nulis teenlit tentang remaja. Kalau tentang anak-anak, aku orangnya nggak suka sama anak-anak karena itu aku pengen nulis tentang anak-anak supaya aku lebih kenal dan jadi nyaman sama anak-anak.
Kadang kalau aku lagi stress, aku baca teenlit atau novel dan aku bisa jadi ceria lagi. Aku jadi merasa berterimakasih banget sama penulis-penulis karena meskipun kadang nggak ngebantui menyelesaikan masalah aku, aku jadi ngerasa tentang kalau udah baca buku. Jadi harapanku adalah gimana bikin orang yang baca tulisan aku jadi seneng dan bersemangat.
Langkah-langkah yang pengen aku lakuin untuk mencapai impianku adalah yang pertama aku bakal belajar menulis yang baik dan berusaha buat menulis denagn bahasa yang mudah dimengerti. Yang kedua aku pengen belajar tentang psikologi anak-anak dan remaja. Trus aku bakal berusaha buat ngembangin tulisan aku. Kalau cara yang sekarang aku lagi berusaha memperbaiki tulisan aku dengan cara nyimpen tulisan itu selama seminggu dulu trus aku perbaiki. Trus disimpan lagi seminggu, trus diperbaiki lagi sampai bener-bener kita ngerasa tulisan kita udah bagus. Itu sih aku terinspirasi dari cerpen ntah apa judulnya aku lupa. Tapi yang pasti cerpennya keren banget.

Cinta Tidak Harus Memiliki(?)


kadang mencintai tidak harus dengan hidup bersama dengan orang yang kita cintai, tapi cukup dengan memberi hati kita padanya ”

Kekeke, yah cinta memang berbeda definisinya dari setiap orang. tapi itulah prinsip yang aku coba pertahankan sampai sekarang. Intinya “cinta tidak harus memiliki”. Kayak judul lagu ya? Kalau kata Andrea Hirata, kata-kata itu “Indonesia banget”. Yups, mencintai memang kadang ngga harus dengan kita memiliki orang yang kita cintai. Karena mungkin dengan kita memiliki orang itu, kita malah akan menjadi sakit. atau saat kita dengan orang yang kita cintai udah berbeda alam. Kalau gitu kan udah ngga bisa bersatu lagi.
Beberapa orang mungkin percaya, selama mereka berusaha pasti mereka bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Yups, optimisme emang penting banget. Apalagi ketika hal itu penting banget buat kita. Nah tapi kalau kadang rasa sakit mempertahan lebih sakit dari pada rasa sakit melepaskan, menurut aku lebih baik kita melepaskan orang itu.
Atau ketika rasa cinta kita begitu besar, kita akan memilih untuk melepaskan orang yang kita cintai dan membiarkannya memilih. Yah, kadang senyum orang yang kita cintai memang segalanya. Namun jarang ada orang yang berbuat seperti ini, karena kadang rasa cinta akan membuat kita menjadi egois.
Tapi ngga selamanya kita harus melepas cinta kita. Bakal datengg satu cinta yang bikin dunia kita bener-bener berbeda dan segalanya akan berubah menjadi indah. Nah cinta yang kayak begitu perlu kita pertahankan. Asal, jangan sampai kita menjadi buta hanya karena cinta.
Kesimpulannya, kita harus mempertahankan orang yang kita cintai selama itu bisa membuat orang yang kita cintai dan kita sendiri bahagia. Namun ketika rasa sakit itu mulai tumbuh besar dan membuat salah satu tidak nyaman, mungkin lebih baik dilepaskan. Anggap saja itu hanya sebuah persinggahan. Dan suatu saat kita akan menemukan orang yang benar-benar kita cari. <3<3<3